MEDIA BELAJAR SOSIOLOGI

Media berbagi pengetahuan

seputar surabaya

 

RSBI Hilangkan Nasionalisme Siswa

Usaha pemerintah membentuk rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) di sekolah-sekolah negeri dikritik keras dalam sarasehan nasional di Universitas Negeri Malang (UNM) di Malang, Jawa Timur, Rabu (21/7/2010). Beberapa pembicara mengungkapkan, konsep RSBI malah jadi salah satu penyebab siswa tak lagi lekat dengan nilai-nilai Pancasila.

'Tak masalah kalau pakai bahasa Inggris di sekolah, tetapi jangan adopsi kurikulum luar. Akibatnya, ajaran Pancasila lama-lama hilang.'
-- Sri Edi Swasono

Salah satu penyebab tersebut diungkapkan oleh ekonom Sri Edi Swasono. Tidak masalah kalau kita mau pakai bahasa Inggris di sekolah, tetapi jangan adopsi kurikulum luar untuk sekolah kita. Akibatnya, ajaran Pancasila lama-lama hilang, tutur Edi.

Edi sangat menyayangkan pembelajaran di Tanah Air berkiblat ke Barat. Padahal, seharusnya lebih mengedepankan potensi negara dalam kurikulum nasional.

Coba, kita punya laut, mengapa oseanografi tidak diajarkan. Kita punya hutan, kenapa ilmu kehutanan tidak jadi pembelajaran, ujarnya mengkritik.

Rektor Universitas Wisnuwardhana Suko Wiyono pun menganggap konsep RSBI tidak efektif. RSBI hanya mengubah cara menyampaikan pelajaran dengan bahasa Inggris. Yang menyedihkan, kemampuan bahasa Inggris guru tidak lebih baik dari siswanya, kata Suko
 
 
 

HAISOBAT, Situs Belajar Interaktif Untuk Anak

PT Telkomsel baru saja menghadirkan website belajar interaktif terbaru bertajuk Haisobat.com yang merupakan media komunikasi berbasis Web untuk para pelajar dan anak muda.

Di dalam website tersebut, Telkomsel menyediakan menu yang dapat dimanfaatkan oleh anak muda untuk menambah wawasan maupun pengetahuan akademik.

"Website ini dibuat untuk memberi ruang bagi para siswa maupun guru untuk saling bertukar informasi tentang aktivitas masing-masing sekolah yang tergabung di Telkomsel School Community," kata Venusiana Papasi, Vice President Area Jabodatebek Jabar Telkomsel, di Jakarta, Sabtu 29 Januari 2011.

Di sisi konten akademik, Haisobat.com sementara ini menyediakan menu pembelajaran matematika yang meliputi Aljabar dan Trigonometri, yang mana keduanya dijabarkan dengan metode yang sangat sederhana dan menarik.

"Di sini para siswa dapat belajar interaktif tentang cara cepat mengerjakan soal beserta tips dan trik tertentu," ujar Venusiana. "Nantinya, kami akan mengembangkan konten ini ke disiplin ilmu lain seperti fisika, dan sebagainya. Sejauh ini baru tersedia matematika karena dianggap sebagai mata pelajaran inti yang bermanfaat untuk mengasah logika anak."

Venus juga mengatakan, kehadiran portal ini diharapkan dapat membantu para pelajar atau siswa yang merasa kurang mampu untuk mengikuti kursus lantaran biaya yang mahal.

"Mereka (para siswa) tidak perlu membeli buku pelajaran tambahan karena selain mahal ia juga gampang tercecer. Kini semua konten ada di Internet. Lengkap dengan soal-soal dan cara mengerjakannya. Nanti akan kami buatkan portal versi mobile supaya siswa lebih mudah mengaksesnya melalui ponsel," jelas dia.

Selain menu-menu pelajaran, Venus menjelaskan, Haisobat.com juga dilengkapi dengan menu-menu ringan sesuai minat para siswa, seperti fashion, musik, foto, video, blog, hingga programming. "80 persen konten di dalamnya adalah seputar akademik, sisanya adalah menu penunjang seperti minat," paparnya.

"Target segmennya adalah anggota komunitas Telkomsel School Community yang meliputi seluruh komunitas pelajar pengguna layanan Telkomsel. Karena ke depan, segmen komunitas akan menjadi segmen paling loyal ketimbang pelanggan biasa," tandas Venusiana
 
 
 

Dalam Pameran Karya Ilmiah, Kulit Pisang Jadi Bahan Pembangkit Listrik

Fakultas Teknik Lingkungan Hidup ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) mengadakan lomba karya tulis ilmiah dan pameran karya ilmiah dengan tema " Energy Alternatif Ramah Lingkungan Yang Tepat Guna Bagi Masyarakat" .

Acara yang digelar mulai hari Kamis (26/03/2009) sampai dengan hari Sabtu (28/03/2009) tersebut, diadakan di Balai Pemuda, Jl. Pemuda Surabaya.


Latar belakang pihak.penyelenggara mengadakan acara tersebut adalah untuk merangsang minat generasi muda mencari sumber energi alternatif menggantikan sumber energi konvesional berbahan baku dasar minyak bumi yang mulai menipis.


Dari semua karya peserta lomba yang dipamerkan ada satu karya yang mendapatkan perhatian dari pengunjung yaitu " Ba-Na Gyzer " .

Sistem kerja alat temuan 3 mahasiswa Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri ITS itu adalah menggunakan cairan hasil fermentasi kulit pisang yang selanjutnya dengan proses elektrolisis digunakan untuk mengoperasikan Light Trap .


Keuntungan lain dari ciptaan mereka, selain murah dan ramah lingkungan, limbah dari proses elektrolisis dapat digunakan sebagai pupuk alami.


Ketua panitia, Ardana Wiranata ketika di wawancarai oleh wartawan beritasurabayanet mengatakan bahwa acara tersebut digelar untuk membangkitkan daya pikir serta minat generasi muda dalam upaya mencari sumber energi alternatif yang ramah lingkungan bagi masyarakat, lebih lanjut Ardana juga mengatakan bahwa negara Indonesia kaya akan sumber daya energi selain minyak bumi, namun kurangnya eksplorasi menyebabkan kondisi cadangan energi yang ada mulai menipis, berkurangnya cadangan minyak bumi serta diiringi dengan fluktuasi harga minyak bumi di pasar domestik dan internasional menjadikan sumber energi berbahan baku minyak bumi menjadi tidak ekonomis, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan mengoptimalkan pencarian dan penggunaan energi alternatif
 
 
 

SMAN RSBI tolak kembalikan SPP

Instruksi Dinas Pendidikan Kota Surabaya pada seluruh SMA untuk mengembalikan sumbangan pembangunan pendidikan (SPP) tidak dipatuhi beberapa, terutama yang berlabel rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI).

Rata-rata SPP SMA di Surabaya Rp 180.000 - Rp 250.000. Sementara SPP sekolah RSBI Rp 300.000 - Rp 450.000 per bulan.

"Kami sudah bicarakan program SPP gratis ini dengan yayasan. Hasilnya, kami menolak mengembalikan uang SPP bulan ini. Uang itu sudah habis untuk operasional sekolah dan membayar gaji guru," ujar Kepala SMA Barunawati, Kurnia Saptaningsih, kepada Surya, Rabu (19/1).

Kurnia tidak mau, akibat program pengembalian SPP itu, sekolahnya menanggung utang. Selama ini sekolahnya bergantung pada duit SPP dari 1.000 siswanya. "Siapa mau tekor? Kecuali BOPDA (dana bantuan operasional pendidikan daerah) sudah cair. Itu pun tidak cukup untuk menutup kebutuhan sekolah," kata Kurnia.

Dengan SPP Rp 280.000 per bulan, maka SMA Barunawati harus menyediakan dana Rp 280 juta untuk dikembalikan kepada siswa.

Pengembalian SPP juga belum dilakukan dua SMAN RSBI, yaitu SMAN 2 dan SMAN 5. "Pemkot dan DPRD tuntaskan aturannya dulu, baru SPP kami kembalikan," ucap Kasnoko, Kepala SMAN 2 kepada Surya.

SMAN 2 selama ini memungut SPP Rp 300.000 per bulan pada 997 siswanya. "Saya tahu sekolah harus mengembalikan SPP setelah membaca Surya. Terus terang, pembebasan SPP untuk RSBI ini yang paling berpengaruh adalah kegiatan siswa dan tambahan pelajaran. Kalau dijalankan, kami cukup-cukupkan dana BOPDA yang disediakan," kata Kusnoko.

SMAN 5 (RSBI) rupanya juga belum mengembalikan SPP. "SPP saya Rp 450.000 belum dikembalikan," kata seorang siswa SMAN 5 yang enggan disebut namanya.

Sikap berbeda ditunjukkan SMA negeri reguler, seperti SMAN 6 yang sudah mengembalikan uang SPP kepada seluruh siswanya. "Sudah, kami sudah mengembalikannya kepada siswa," kata Kepala SMAN 6 Nurseno.

SMAN 19 Surabaya bahkan sudah lebih dulu mengembalikan uang SPP untuk 968 siswanya. Namun, Muhammad Najih, Waka Humas SMAN 19, khawatir, akibat pengembalian SPP dan tanpa pungutan, kualitas pendidikan terpengaruh. Misalnya, kegiatan pengayaan materi ujian nasional dikurangi.

"Biasanya, pengayaan ini dilakukan pada hari libur atau usai sekolah. Ini insentif tambahan bagi guru. Kalau tidak ada SPP, kegiatan ini tak bisa dilakukan," tanya Najih

Sebagaimana diberitakan, Dinas Pendidikan Kota Surabaya mengistruksikan seluruh SMA, baik negeri-swasta maupun reguler-RSBI, mengembalikan uang SPP Januari yang telah dibayarkan. Soal penolakan SMA swasta dan RSBI, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Sahudi bersikeras pada sikapnya, SPP harus dikembalikan. "Begitu BOPDA cair, semua SPP harus kembali," tegas Sahudi.
 
 
 

ITS masuk 100 besar WEBOMETRIC

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya bersama dua perguruan tinggi negeri (PTN) lain di Indonesia masuk peringkat 100 besar versi Webometrics (pemeringkatan publikasi ilmiah melalui web/laman universitas se-dunia).

"Penilaian itu masih bersifat kuantitatif dalam bentuk pemeringkatan, jadi perlu ditindaklanjuti dengan peningkatan kualitas pembelajaran di ITS sendiri," kata Pembantu Rektor (PR) I ITS Prof Arif Djunaedi di Surabaya, Jumat (21/1/2011).

Ia mengemukakan hal itu menanggapi pemeringkatan versi Webometric dengan posisi ITS pada peringkat ke-60, kemudian Universitas Diponegoro (Undip) Semarang pada peringkat ke-70 dan Universitas Sumatera Utara (USU) Medan pada peringkat ke-91.

Webometrics merupakan pemeringkatan laman (web) yang disusun oleh Cybermetrics Lab sebagai grup lembaga penelitian yang menjadi bagian dari "Consejo Superior de Investigaciones Cientificas" (CSIC) atau badan penelitian masyarakat terbesar di Spanyol.

Pemeringkatan Webometrics untuk Repositori Institusional pada Januari 2011 itu bertujuan mengukur komitmen perguruan tinggi dalam memberikan akses masyarakat terhadap penelitian yang dikeluarkan melalui laman miliknya, seperti jurnal ilmiah, tesis, disertasi, skripsi, dan sebagainya.

Repositori Institusional merupakan pemeringkatan yang dilakukan dengan mengacu berdasarkan pada empat kriteria, yakni Size (jumlah halaman yang tertangkap situs pencarian), Visibility (dilihat dari jumlah backlink), Rich Files (jumlah file dokumen), dan Scholar (jumlah paper dan sitasi di Google Scholar).

Menurut PR I ITS Arif Djunaedi, masuknya ITS dalam rangking "100 besar" dunia itu tidak lepas dari publikasi riset, baik melalui jurnal ilmiah maupun website resmi ITS.

"Jumlah penelitian di ITS memang mengalami kenaikan yang diikuti publikasi internasional. Kami menyadari kunci utama bisa sejajar dengan universitas dunia adalah dengan memperbanyak publikasi penelitian ilmiah," katanya.

Oleh karena itu, pihaknya akan terus mendorong civitas akademika ITS untuk melakukan penelitian sesuai dengan kompetisinya.

Tahun lalu, Undip menempati peringkat ke-49 dalam pemeringkatan pada Juli 2010, tapi kini turun ke peringkat 70, sedangkan ITS naik dari peringkat ke-227 pada tahun lalu menjadi peringkat ke-64.

 
 
Page 1 of 1. Total : 5 Posts.