MEDIA BELAJAR SOSIOLOGI

Media berbagi pengetahuan

berita sosiologi

 

Manusia dan Jejaring sosial

sesuai judul diatas, kali ini saya akan menjelaskan tentang manusia dan jejaring sosial. sebenarnya perkembangan zaman dari tahun ke tahun menjadi sebuah keunikan, di era globalisasi ini manusia sangat membutuhkan jejaring sosial. untuk jejaringsosial ini sebenarnya membuat manusia "kurang manusiawi" seperti dilansir oleh HMINEWS bahwa Seorang akademisi Amerika Serikat mengklaim situs jejaring sosial membuat kita kurang manusiawi. Pasalnya, menurut seorang sosiolog terkenal cara orang-orang berkomunikasi online melalui jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook bisa dilihat sebagai bentuk modern kegilaan.

"Perilaku yang sudah jadi tipikal bisa saja menunjukkan masalah yang dulu kita anggap sebagai penyakit," tulis Sherry Turkle, seorang profesor di Massachusetts Institute of Technology, dalam buku barunya Alone Together. Sherry menjelaskan bahwa orang menjadi terisolasi dari realitas karena situs jejaring sosial dan teknologi mendominasi kita dan membuat kita "kurang manusiawi."

Dalam ilusi bahwa kita sedang berkomunikasi lebih baik, teknologi sebenarnya menjauhkan kita dari interaksi nyata manusia lewat cyber reality yang merupakan imitasi buruk dari dunia nyata. Peringatan yang dia berikan dan dari cyber sceptis lainnya, menyusul kematian dari Simone Back, seorang perempuan asal Inggris yang mem-posting pesan bunuh diri di Facebook yang dilihat oleh lebih dari 1.000 teman-temannya. Buku Turkle sudah menciptakan perhatian penting di Amerika Serikat lewat karya sebelumnya yaitu The Second Self and Life on the Screen.

untuk itu bisa diberi kesimpulan bahwa jejaring sosial juga dapat membuat manusia terisolasi dari dunia luar. jadi pergunakan lah jejaring sosial seperlunya, jangan terlalu berlebihan karena lebih baik bersosialisasi di dunia yang nyata dari pada dunia maya karena itu hanya bersifat sementara.

sumber :
http://hminews.com/news/jejaring-sosial-membuat-manusia-kurang-manusiawi/
 
 
 

SEBARAN MATERI UNAS SOSIOLOGI

  1. Tindakan Sosial
  2. Proses interaksi sosial
  3. Syarat terjadinya interaksi sosial
  4. Bentuk-bentuk interaksi sisial
  5. Faktor - faktor yang mempengaruhi interaksi sosial
  6. Nilai dan norma sosial
  7. Jenis-jenis dan nilai sosial
  8. Fungsi nilai dan norma sosial
  9. Keteraturan dan tertib sosial
  10. Proses sosialisasi
  11. Bentuk-bentuk sosialisasi
  12. Media sosialisasi
  13. Sosialisasi sebagai proses pengenalan nilai dan norma sosial budaya dalam pembentukan kepribadian
  14. Terjadinya perilaku menyimpang sebagai akibat sosialisasi tidak sempurna
  15. Berbagai jenis perilaku menyimpang
  16. Pengendalian sosial
  17. Fungsi pengendalian sosial
  18. Sifat dan cara pengendalian sosial
  19. Peran lembaga pengendalian sosial
  20. Dasar stratifikasi sosial
  21. Bentuk-bentuk stratifikasi sosial
  22. Diferensiasi sosial dengan parameter agama,etnis, ras, profesi serta gender
  23. Konflik sosial
  24. Faktor penyebab konflik sosial
  25. Bentuk-bentuk konflik sosial
  26. Upaya mengatasi konflik (bentuk-bentuk akomodasi)
  27. Pengaruh interseksi dan konsolidasi terhadap integrasi sosial
  28. Faktor penyebab terjadinya mobilitas sosial
  29. Bentuk-bentuk mobilitas sosial
  30. Saluran mobilitas sosial
  31. Faktor yang mendasari terjadinya kelompok sosial
  32. Bentuk-bentuk kelompok sossial: komunitas, kerumunan dan masyarakat paguyuban / patembayan
  33. Ciri-ciri masyarakat multikultural
  34. Sebab terjadinya multikulturalisme
  35. Perilaku dalam masyarakat multikultural
  36. Primordialisme
  37. Proses perubahan sosial
  38. Bentuk perubahan sosial
  39. Faktor penyebab perubahan sosial
  40. Dampak positif (globalisasi, demokratisasi)
  41. Dampak negatif (westernisasi,sekulerisme,konsumerisme dan hedonisme)
  42. Hakekat lembaga sosial
  43. Tipe tipe lembaga sosial
  44. Peran dan fungsi lembaga pendidikan
  45. Peran dan fungsi lembaga ekonomi
  46. Menyusun rancangan penelitian sosial
  47. Teknik pengumpulan data
  48. Metoda pengumpulan data
  49. Analisa dan interpretasi hasil penelitian
  50. Fungsi laporan penelitian
 
 
 

KAIDAH PENULISAN SOAL BENTUK PILIHAN GANDA

MENYUSUN SOAL SOSIOLOGI

A. Berbasis Kriteria Materi
1. Soal harus sesuai dengan indikator. Artinya soal harus menanyakan perilaku dan materi yang hendak diukur sesuai dengan tuntutan indikator.
Contoh INDIKATOR:Disajikan contoh kegiatan berpikir dalam penelitian, siswa dapat menjelaskan sikap atau cara berpikir ilmiahnya.
CONTOH SOAL:
Dalam memahami dan mengkaji gejala sosial di masyarakat, seorang sosiolog berpikir berdasarkan fakta yang diamati, bukan khayalan tanpa bukti konkret. Jenis penelitian tersebut dinamakan.....
a. kritis
b. analitis
c. teoritis
d. non-etis
e. empiris
SARAN: Kalimat yang digarisbawahi (pada stem) tidak sesuai dengan tuntutan indicator yang menanyakan sikap/cara berpikir, bukan jenis penelitian. Oleh sebab itu dapat diganti dengan : Cara berpikir ilmiah tersebut dinamakan.....
SOAL YANG BAIK:
Dalam memahami dan mengkaji gejala sosial di masyarakat, seorang sosiolog berpikir berdasarkan fakta yang diamati,bukan khayalan tanpa bukti konkret. Cara berpikir ilmiah tersebut dinamakan.....
a. kritis
b. analitis
c. teoritis
d. non-etis
e. empiris
kunci : e

2. Pengecoh harus berfungsi. Artinya semua pilihan jawaban harus berasal dari materi yang sama seperti yang terkandung dalam pokok soal, penulisannya harus setara dan semua pilihan jawaban harus berfungsi.
CONTOH SOAL:
Ketika tes atau ulangan sedang berlangsung, hubungan sosial antara peserta/siswa diwarnai persaingan untuk mendapatkan nilai terbaik dan tidak terjadi kerjasama (saling membantu). Interaksi sosial dalam suasana persaingan tersebut bersifat.....
a. asositif
b. disosiatif
c. teknologis -------------------tidak berfungsi
d. akomodatif
e. komunikatif
SARAN: Option pengecoh (c) tidak berfungsi, sebaiknya diganti dengan yang homogen, yakni (c) kooperatif
SOAL YANG BAIK:
Ketika tes atau ulangan sedang berlangsung, hubungan sosial antara peserta/siswa diwarnai persaingan untuk mendapatkan nilai terbaik dan tidak terjadi kerjasama (saling membantu).
Interaksi sosial dalam suasana persaingan tersebut bersifat.....
a. asositif
b. disosiatif
c. kooperatif
d. akomodatif
e. komunikatif
kunci : b

3. Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar atau yang paling benar. Artinya satu soal hanya mempunyai satu kunci jawaban. Jika terdapat beberapa pilihan jawaban yang benar, maka kunci jawabannya adalah pilihan jawaban yang paling benar.
CONTOH SOAL: Tata tertib berlalu lintas dibuat secara tertulis oleh negara. Masyarakat mematuhi aturan lalu lintas, dan apabila terbukti melanggar, masyarakat bersedia menerima sanksi yang diberikan oleh aparat/petugas yang berwenang. Aturan berlalu lintas tersebut, berdasarkan tingkat sanksinya tergolong jenis norma.....
a. undang-undang -------------- benar
b. hukum/laws------------------- benar
c. adapt-istiadat/custom
d. tata kelakuan/mores
e. kebiasaan/folkways
SARAN:Option(a)&(b)sangat bersaing, sebaiknya (salah satu) diganti, yakni option (a) diganti dengan: cara/usage
SOAL YANG BAIK:
Tata tertib berlalu lintas dibuat secara tertulis oleh negara. Tampaknya semakin banyak masyarakat mematuhi aturan lalu lintas, bahkan apabila terbukti melanggar, masyarakat bersedia menerima sanksi yang diberikan oleh aparat/petugas yang berwenang. Aturan tersebut tergolong jenis norma...
a. cara/usage
b. hukum/laws
c. adapt-istiadat/custom
d. tata kelakuan/mores
e. kebiasaan/folkways
kunci : b

B. Berbasis Kriteria Konstruksi

4. Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas. Artinya kemampuan/materi yang hendak diukur/ditanyakan harus jelas, tidak menimbulkan pengertian atau penafsiran yang berbeda dari yang dimaksudkan penulis dan hanya mengandung satu persoalan untuk setiap nomor. Bahasa yang digunakan harus komunikatif, sehingga mudah dimengerti siswa,. Apabila tanpa harus melihat dahulu pilihan jawaban, siswa sudah dapat mengerti pertanyaan/maksud pokok soal, maka dapat disimpulkan bahwa pokok soal tersebut sudah jelas.
CONTOH SOAL:
Setiap individu mengalami proses sosialisasi sejak lahir, yakni diajari oleh orang tua dan masyarakatnya tentang nilai, norma, maupun peranan sosial agar menjadi manusia serba bisa.
Tujuan dari proses sosialisasi tersebut adalah….
a. mempelajari cara hidup yang sehat
b. memberikan pelatihan dan pendidikan
c. mengembangkan kebudayaan sendiri
d. membentuk kepribadian yang ideal
e. membangun masyarakat yang aman
SARAN: Kata yang digarisbawahi (pada stem) tidak jelas maksudnya, sebaiknya diganti dengan: berperilaku baik.
SOAL YANG BAIK :
Setiap individu mengalami proses sosialisasi sejak lahir, yakni diajari oleh orang tua dan masyarakatnya tentang nilai, norma, maupun peranan sosial agar menjadi manusia berperilaku baik. Tujuan dari proses sosialisasi tersebut adalah….
a. mempelajari cara hidup yang sehat
b. memberikan pelatihan dan pendidikan
c. mengembangkan kebudayaan sendiri
d. membentuk kepribadian yang ideal
e. membangun masyarakat yang aman
kunci : d

5. Rumusan pokok soal & pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja. Artinya apabila terdapat rumusan atau pernyataan yang sebetulnya tidak diperlukan, maka rumusan atau pernyataan tersebut dihilangkan saja.
CONTOH SOAL:
Setiap hari belajar, guru piket sekolah menahan dan memberi sanksi edukatif kepada siswa yang terlambat masuk sekolah agar tidak terjadi pelanggaran disiplin dan tata tertib siswa. Tugas guru piket dibantu oleh guru Bimbingan Penyuluhan. Upaya guru tersebut merupakan pengendalian sosial yang bertujuan untuk ….
a. memberikan hukuman kepada siswa
b. menghukum siswa yang terlambat masuk sekolah
c. menciptakan keteraturan sosial di sekolah
d. mendorong siswa untuk belajar keras
e. mendidik siswa menjadi sadar hukum
SARAN: Kalimat yang digarisbawahi (pada stem) sebaiknya dihilangkan saja.
SOAL YANG BAIK :
Setiap hari belajar, guru piket sekolah menahan dan memberi sanksi edukatif kepada siswa yang terlambat masuk sekolah agar tidak terjadi pelanggaran disiplin dan tata tertib siswa.
Upaya guru tersebut merupakan pengendalian sosial yang bertujuan untuk.....
a. memberikan hukuman kepada siswa
b. menghukum siswa yang terlambat masuk sekolah
c. menciptakan keteraturan sosial di sekolah
d. mendorong siswa untuk belajar keras
e. mendidik siswa menjadi sadar hukum
kunci : c

6. Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar. Artinya pada pokok soal jangan sampai terdapat kata, frase, atau ungkapan yang dapat memberikan petunjuk ke arah jawaban yang benar.
CONTOH SOAL:
Masyarakat Indonesia mulai memberikan anggaran lebih besar untuk sektor pendidikan dalam memajukan masyarakat dalam cara berpikir ilmiah.
Kegiatan tersebut sejalan dengan salah satu syarat modernisasi, yakni ….
a. sistem administrasi yang baik
b. tingkat organisasi yang tinggi
c. iklim sosial masyarakat yang mendukung
d. masyarakat memiliki cara berpikir ilmiah
---Kunci sama dengan kata di stem
e. sentralisasi wewenang perencanaan masyarakat
SARAN: Kata bergaris bawah dapat diganti dengan: kualitas sumber
daya manusia
SOAL YANG BAIK:
Masyarakat Indonesia mulai memberikan anggaran lebih besar untuk sektor pendidikan dalam memajukan kualitas sumber daya manusia.
Kegiatan tersebut sejalan dengan salah satu syarat modernisasi, yakni ….
a. sistem administrasi yang baik
b. tingkat organisasi yang tinggi
c. iklim sosial masyarakat yang mendukung
d. masyarakat memiliki cara berpikir ilmiah
e. sentralisasi wewenang perencanaan masyarakat kunci : d

7.Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda. Artinya pada pokok soal jangan sampai terdapat dua kata atau lebih yang mengandung arti negatif. Penggunaan kata negatif ganda dapat mempersulit siswa dalam memahami maksud soal, oleh karena itu perlu dihindari.
CONTOH SOAL:
Berikut ini yang bukan termasuk bentuk proses akomodasi sosial untuk penyelesaian konflik sosial, kecuali...
a. mediasi
b. arbitrasi
c. interaksi
d. toleransi
e. konversi
SARAN: Salah satu kata negatif (bergaris bawah pada stem) dihilangkan.
SOAL YANG BAIK:
Berikut ini termasuk bentuk proses akomodasi sosial untuk penyelesaian konflik sosial tertentu, kecuali .....
a. mediasi
b. arbitrasi
c. interaksi
d. toleransi
e. konversi
kunci : c
atau
Berikut ini yang bukan termasuk bentuk proses akomodasi sosial untuk penyelesaian konflik sosial adalah ….
a. mediasi
b. arbitrasi
c. interaksi
d. toleransi
e. konversi
kunci : c

8.Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari segi materi. Artinya semua pilihan jawaban harus berasal dari materi yang sama seperti yang ditanyakan oleh pokok soal, penulisannya harus setara, dan semua pilihan jawaban harus berfungsi.
Contoh: LIHAT nomor 2 di atas.

9.Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama. Kaidah ini perlu diperhatikan karena adanya kecenderungan siswa untuk memilih jawaban yang paling panjang, karena seringkali jawaban yang lebih panjang itu lebih lengkap dan merupakan kunci jawaban.
CONTOH SOAL:
Beberapa kelompok masyarakat masih berperilaku primordial, yakni lebih suka memilih kawan, tetangga, dan menantu yang sesuku, dan kurang nyaman jika harus dari suku lain.
Perilaku primordial sukuisme tersebut dilatarbelakangi oleh adanya….
a. fanatisme
b. radikalisme
c. hedonisme
d. etnosentrisme dan stereotipe -------------- Kunci, rumusannya paling panjang
e. individualisme

SARAN: Kata bergaris bawah pada option (d) sebaiknya dihilangkan.
SOAL YANG BAIK :
Beberapa kelompok masyarakat masih berperilaku primordial, yakni lebih suka memilih kawan, tetangga, dan menantu yang sesuku, dan kurang nyaman jika harus dari suku lain.
Perilaku primordial sukuisme tersebut dilatarbelakangi oleh adanya….
a. fanatisme
b. radikalisme
c. hedonisme
d. etnosentrisme
e. individualisme
kunci : d

10.Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan,"Semua pilihan jawaban di atas salah", atau "Semua pilihan jawaban di atas benar". Artinya dengan adanya pilihan jawaban seperti ini, maka dari segi materi pilihan jawaban berkurang satu, karena pernyataan itu hanya merujuk kepada materi dari jawaban sebelumnya.

CONTOH SOAL:Hubungan antara kelompok umat beragama berbeda tidak selalu harmonis, karena kadang-kadang terjadi konflik. Masing-masing kelompok merasa paling benar dan tidak jarang menolak pandapat dari kelompok lainnya.
Sikap fanatisme tersebut disebabkan oleh….
a. pengetahuan agama yang sempit
b. kepercayaan agama yang kuat
c. pengalaman keagamaan yang unik
d. simbol keagamaan yang berbeda
e. semua jawaban di atas benar ---------------- harus diganti

SARAN: Option (e) diganti dengan: praktik keagamaan yang benar
SOAL YANG BAIK:
Hubungan antara kelompok umat beragama berbeda tidak selalu harmonis, karena kadang-kadang terjadi konflik. Masing-masing kelompok merasa paling benar dan tidak jarang menolak pandapat dari kelompok lainnya.
Sikap fanatisme tersebut disebabkan oleh….
a. pengetahuan agama yang sempit
b. kepercayaan agama yang kuat
c. pengalaman keagamaan yang unik
d. simbol keagamaan yang berbeda
e. praktik keagamaan yang benar kunci : a

11. Pilihan jawaban yang terbentuk angka harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka tersebut, dan pilihan jawaban berbentuk angka yang menunjukkan waktu harus disusun secara kronologis. Pengurutan angka dilakukan dari nilai angka paling kecil ke nilai angka paling besar atau sebaliknya. Pengurutan waktu berdasarkan kronologis waktunya. Pengurutan tersebut dimaksudkan untuk memudahkan siswa melihat dan memahami pilihan jawaban.
CONTOH SOAL : Beberapa contoh perubahan sosial :
1.Secara bertahap anak tumbuh menjadi besar/dewasa dari waktu ke waktu
2.Setelah proklamasi, dalam tempo singkat Indonesia menjadi negara merdeka
3.Setelah belajar di SD selama satu tahun, anak-anak mampu baca tulis
4.Reformasi politik menimbulkan perubahan di berbagai bidang kehidupan
Yang tergolong perubahan evolusi adalah….
a. 1 dan 2
b. 1 dan 3
c. 2 dan 3
d. 3 dan 4 ---------(d-e, tidak berurut)
e. 2 dan 4 ---------

SARAN: Option (d ) dan (e) harus diurut
SOAL YANG BENAR:
Beberapa contoh perubahan sosial :
1.Secara bertahap anak tumbuh menjadi besar/dewasa dari waktu ke waktu
2.Setelah proklamasi, dalam tempo singkat Indonesia menjadi negara merdeka
3.Setelah belajar di SD selama satu tahun, anak-anak mampu baca tulis
4.Reformasi politik menimbulkan perubahan di berbagai bidang kehidupan
Yang tergolong perubahan evolusi adalah….
a. 1 dan 2
b. 1 dan 3
c. 2 dan 3
d. 2 dan 4
e. 3 dan 4 kunci : b

12. Gambar, grafik, tabel, diagram dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi. Artinya apa saja yang menyertai suatu soal yang ditanyakan harus jelas, terbaca, dapat dimengerti oleh siswa. Apabila soal tersebut tetap bisa dijawab tanpa melihat gambar, grafik, tabel atau sejenisnya yang terdapat pada soal, berarti gambar, grafik atau table tersebut tidak berfungsi.
CONTOH SOAL :
Amati gambar stuktur sosial vertical berikut!

Kelompok Kaya
- - - -
Kelompok Sedang
- - - - - - -
Kelompok Miskin


Sistem stratifikasi pada masyarakat modern berdasarkan ekonomi bersifat terbuka, karena memungkinkan terjadi ….
a. interaksi sosial
b. integrasi sosial
c. konsolidasi sosial
d. interseksi sosial
e. mobilitas sosial
SARAN: Kalimat bergaris bawah diganti dengan : gambar di atas
SOAL YANG BAIK:
Amati gambar stuktur sosial vertical berikut!

Kelompok Kaya
- - - -
Kelompok Sedang
- - - - - - -
Kelompok Miskin


Sistem stratifikasi pada gambar di atas bersifat terbuka, karena memungkinkan terjadi ….
a. interaksi sosial
b. integrasi sosial
c. konsolidasi sosial
d. interseksi sosial
e. mobilitas sosial kunci : e

13. Butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya. Ketergantungan pada soal sebelumnya menyebabkan siswa yang tidak dapat menjawab benar soal pertama tidak akan dapat menjawab dengan benar soal berikutnya.
CONTOH SOAL :
Sifat stratifikasi sosial pada soal nomor 12 di atas ditandai dengan adanya peluang bagi setiap individu untuk melakukan ….
a. konflik sosial
b. mobilitas sosial
c. kompetisi sosial
d. akomodasi sosial
e. pengendalian sosial
SARAN: Kata bergaris bawah (pada stem) diganti dengan: masyarakat industri modern
SOAL YANG BAIK:
Sifat stratifikasi sosial masyarakat industri modern ditandai dengan adanya peluang bagi setiap individu untuk melakukan ….
a. konflik sosial
b. mobilitas sosial
c. kompetisi sosial
d. akomodasi sosial
e. pengendalian sosial kunci : b

C. Berbasis Kriteria Bahasa
14. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
CONTOH SOAL :
Dalam sebuah komunitas terdapat stuktur sosial sebagai berikut:

Keterangan:
Kelompok suku minang (pedagang) hidup
berdampingan dengan kel. sunda (pegawai)

Hubungan sosial antara kedua kelompok tersebut mengandung kemungkinan terjadinya konflik yang keras karena stuktur sosialnya berbentuk ….
a. interseksi
b. konsolidasi
c. integrasi
d. horizontal
e. vertikal
SARAN: Gunakan ejaan yang benar, termasuk dalam penulisan nama suku/pekerjaan
SOAL YANG BENAR:
Dalam sebuah komunitas terdapat stuktur sosial sebagai berikut:




Keterangan:
Kelompok suku Minang (Pedagang) hidup
berdampingan dengan kel. Sunda (Pegawai)

Hubungan sosial antara kedua kelompok tersebut mengandung kemungkinan terjadinya konflik yang keras karena stuktur sosialnya berbentuk ….
a. interseksi
b. konsolidasi
c. integrasi
d. horizontal
e. vertical kunci : b

15. Menggunakan bahasa yang komunikatif sehingga mudah dimengerti.
CONTOH SOAL:
Untuk memperoleh data penelitian dari subjek, tim peneliti menyusun pertanyaan tertulis, kemudian digandakan dan disebarkan kepada para siswa. Setelah diisi dan dijawab oleh siswa responden, peneliti menarik kembali.
Sistem pengumpulan data tersebut dinamakan ….
a. observasi non-partisipasi
b. wawancara mendalam
c. dokumentasi data
d. observasi partisipasi
e. teknik kuesioner
SARAN: Istilah subjek (pada stem) dapat diganti dengan: responden
SOAL YANG BAIK:
Untuk memperoleh data penelitian dari responden, tim peneliti menyusun pertanyaan tertulis, kemudian digandakan dan disebarkan kepada para siswa. Setelah diisi dan dijawab oleh siswa responden, peneliti menarik kembali.
Sistem pengumpulan data tersebut dinamakan ….
a. observasi non-partisipasi
b. wawancara mendalam
c. dokumentasi data
d. observasi partisipasi
e. teknik kuesioner kunci : e

16. Jangan menggunkan bahasa yang berlaku setempat, jika soal akan digunakan untuk daerah lain atau nasional.
CONTOH SOAL :
Budaya gotong royang dan sambatan tanpa upah di masyarakat semakin berkurang. Memudarnya budaya tersebut perlu disikapi dengan menunjukkan empati sosial, yaitu….
a. menerima kebiasaan masyarakat lain/luar
b. mengembangkan tradisi budaya baru dari luar
c. mengganti nilai budaya lama dengan yang baru
d. merasa prihatin atas memudarnya jati diri bangsa
e. mengikuti cara hidup yang menguntungkan diri sendiri
SARAN: Kata sambatan (pada Stem) diganti dengan: kerja bakti
SOAL YANG BAIK:
Budaya gotong royang dan kerja bakti tanpa upah di masyarakat semakin berkurang. Memudarnya budaya tersebut perlu disikapi dengan menunjukkan empati sosial, yaitu….
a. menerima kebiasaan masyarakat lain/luar
b. mengembangkan tradisi budaya baru dari luar
c. mengganti nilai budaya lama dengan yang baru
d. merasa prihatin atas memudarnya jati diri bangsa
e. mengikuti cara hidup yang menguntungkan diri sendiri kunci : d

17. Pilihan jawaban jangan mengulang kata atau frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian. Letakkan kata tersebut pada pokok soal.
CONTOH SOAL :
Dalam mengkaji kesadarn beribadah sesuai ajaran agama, seorang siswa peneliti mengumpulkan data dengan mengedarkan angket kepada 20 siswa Muslim, 10 siswa Kristen, dan 5 siswa Hindu. Jumlah sampel tersebut diambil dari populasi secara berimbang.
Cara pengambilan sample tersebut dinamakan ….
a. teknik random dan proporsi
b. teknik proporsi dan kelompok
c. teknik kelompok dan wilayah
d. teknik wilayah dan tingkat-kelas
e. teknik tingkat-kelas dan random
SARAN: Kata teknik (di option) dihilangkan; cukup diletakkan di stem.
SOAL YANG BAIK:
Dalam mengkaji kesadarn beribadah sesuai ajaran agama, seorang siswa peneliti mengumpulkan data dengan mengedarkan angket kepada 20 siswa Muslim, 10 siswa Kristen, dan 5 siswa Hindu. Jumlah sampel tersebut diambil dari populasi secara berimbang.
Cara pengambilan sampel tersebut dinamakan teknik ….
a. random dan proporsi
b. proporsi dan kelompok
c. kelompok dan wilayah
d. wilayah dan tingkat-kelas
e. tingkat-kelas dan random kunci : b
 
 
 

SOSIOLOGI INDONESIA: HARUSKAH LEBIH SOSIOLOGIS

Carut marutnya bangsa Indonesia dari berbagai problematikanya diperlukan gagasan-gagasan orisil yang justru problem solvingnya dari perspektif sosiologis. Sebab, di mata indonesianis, bangsa ini tidak mudah di selesaikan dengan sekedar jargon politik semata. Tetapi, diperlukan kerja sosial yang berbasis sosial-budaya yang sangat heterogen. Dapat dibayangkan, semisal penyelesaian separatisme diberbagai daerah hanya diproduk dari "meja Jakarta" yang notabene central elite kekuasaan yang --meminjam istilah trennya -- " tebar pesona an-sich".
Untuk itu, sudah waktunya piranti produk budaya yang plural itu dicarikan formulanya yang melibatkan para expert diberbagai bidang. Mulai "hulu" (penguasa) sampai "hilir" (rakyat) dimanapun berada membuka ruang publik komunikasi sosial untuk meretas sekat-sekat psikologis yang sudah lama mengkristal. Dengan demikian, fungsi peran -peran social -control seperti yang dikemukakan Paul B.Horton dan C.L.Hunt (1993:176), pengendalian sosial (social control) adalah, untuk menggambarkan segenap cara dan proses yang ditempuh oleh sekelompok orang atau masyarakat sehingga para anggotanya dapat bertindak sesuai dengan harapan kelompok atau masyarakat.
Mengutip yang diungkapkan Paul Horton dan C.L.Hunt di atas, setidaknya pemerintahan SBY hari ini dan pemerintahan yang akan datang, semestinya dapat menjadi pengendali sosial yang sesuai dengan harapan berbagai elemen bangsa, kalau menghendaki adanya social order (ketertiban sosial). Di akui atau tidak, keterlambatan proses nation building di Indonesia, salah satunya tidak adanya komitmen bersama di berbagai kalangan elemen bangsa itu. Sehingga tidak sedikit program yang digelindingkan oleh pemerintah tidak mendapat respon dan apresiasi dari sebagian kalangan. Boleh jadi yang tidak mendukungnya minoritas, tetapi dalam konteks berbangsa dan bernegara, hal itu dapat menjadi "batu sandung" atau "batu kerikil" yang menyelip di sepatu. Memang proses penyelarasan main-stream ke berbagai kalangan tidak semudah membalik tangan, tapi itulah uji kalayakan seorang pemimpin atau negarawan yang mumpuni. Untuk itu, penulis dengan sedikit analisis sosiologis yang minimalis berupaya mengajak para sosiolog mendialogkan masalah bangsa ini menuju bangsa besar yang beradab dan bermartabat.
 
 
 

MENDIAGNOSA KEKERASAN MASSA

Setiap kita menyelesaikan melaksanakan shalat, kita menengok ke kanan dan ke kiri sebagai ungkapan untuk menebarkan salam di sekeliling kita. Setiap tahun ada ramadhan bulan yang penuh kasih sayang dimana kita sebagai umat manusia dituntut untuk memanifestasikan rasa kasih sayang itu untuk peduli dan saling menghormati terhadap sesama umat manusia. Kekerasan massa dimanapun berada telah banyak mencoreng bangsa ini.

Tahun-tahun sebelumnya misalnya di Poso, meninggalkan luka mendalam korban dari sebuah kekerasan massa yang terjadi akibat konflik yang timbul atas nama Agama. Agama yang sejatinya dituntut untuk membawa umat manusia menjadi pengayom bagi kehidupan manusia dirusak karena masalah fanatisme sempit dan buta,mereka menggap kelompok lain sebagai sesuatu yang layak untuk dimusnahkan. Untuk itu pulalah saya akan sedikit mendiagnosa kekerasan Massa dalam sudut pandang Ilmiah.

Di dalam bukunya memahami negatifitas " diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma, F.Budi Hardiman mempertanyakan Mengapa manusia melakukan kekerasan kepada sesamanya? Pertanyaan itu akan muncul karena timbul keheranan dari diri kita. Keheranan adalah sebuah persaan yang timbul dari diri kita ketika menghadapi sesuatu yang tidak lazim. Bayangkan bila di dalam masyarakat kita kekerasan dianggap sesuatu yang lazim. Pasti tak ada keheranan yang muncul atasnya, akal pun tertidur dan secara bersamaan dengan itu kekerasan tidak pernah dipersoalkan.

Kekerasan massa seperti kerusuhan, huru-hara, pengeroyokan, penjarahan, pembantaian, pemberontakan, revolusi dan seterusnya meruapakan fenomena yang sangat diminati tidak hanya oleh para politikus,melainkan juga para sejarawan, sosiolog, filusuf, psikolog, sastrawan, dan kritikus kebudayaan. Kekerasan sering meletus dalam sejarah umat manusia. Pemberontakan budak dizaman Romawi kuno,peralawanan rakyat Prancis melawan Raja Lois ke IV adalah peristiwa kekerasan massa yang dicatat didalam sejarah dunia.

Kekerasan memang tidak hanaya terajadi di dunia Eropa, tetapi sering juga terjadi di Dunia ke tiaga. Indonesia adalah salah satu contoh negara yang mempunyai tradisi kekerasan massa yang cukup rutin .Pembunuhan masal di tahun 60-an terhadap anggota PKI, tragedi Priok dan masih basah dalam ingatan bayak orang kerusuhan yang berbau SARA pada tanggal 13-14 mei 1998 belum juga kekerasan yang terjadi di Sampit dan masih banyak kekerasan lainya.

Yang jadi persoalan bagi kita adalah mengapa gempa sosial itu bisa terjadi? bagaimana kita bisa menerangkan kondisi kondisi kekerasan massa semacam itu untuk menemukan " struktur struktur " tertentu dari peristiwa yang tampaknya tak tersruktur itu.? Untuk itu saya akan mengutip beberapa pandangan para tokoh yang menyumbangkan teori teorinya tentang kekerasan Massa yang begitu destruktif.

" Massa " istilah ini banayak digunakan dalam banyak arti dan sering tidak tepat karena mengacu pada berbagai fenomena. Dalam ranah ini saya hanya akan mengungkapkan istilah "massa" yang berarti massa yang tidak mengindahkan norma norma sosial yang berlaku sehari hari. Massa yang berkaitan hanya pada situasi khusus yang sifatnya Abnormal .Gustave le Bone,bapak psikologi massa, mengatakan bahwa massa itu bodoh, mudah diprovokasi, bersifat rasistits atau singkat kata irrasoanal.

Massa menurutnya terkungkung dalam batas batas ketidak sadaran, tunduk pada segala pengaruh,mudah diombang ambing oleh emosi dan mudah percaya. Di dalam massa individu individu yang berbeda memiliki " dorongan -dorangan, nafsu-nafsu dan perasaan-perasaan yang sangat mirip " dan bertingkah laku sama.

Sigmund Freud ( bapak psikoanalisa ) juga mengatakan situasi massa adalah " regresi ke aktiviatas psikis yang primitif…bangkitnya kembali gerombolan purba dalam diri kita," teori -tori itu mungkin akan berlainan dengan apa yang dikatakan toori Marxis yang lebih melihat massa sebagai sebuah massa yang sadar kelas. Teori Marxis tidak memandang fenomena massa sebagai ledakan emosi atau pelampiasan naluri naluri biadab,karena aksi massa yang revolusioner berasal dari konflik kepentingan kelas kelas atau ketidak samaan struktural. Artinya mereka peserta aksi massa tidak bertindak melulu karena emosi, melainkan "strategis" :mereka mengikuti kepentingan-kepentingan kelas mereka yang bersifat objektif. Atau dengan kata lain aksi massa mereka bersifat rasional.

Manusia yang ikut serta dalam aksi massa tidak melulu digerakan oleh kemarahan, frustasi, agresi, kebencian atau ketidakpuasan seperti binatang buas yang lapar. Mereka juaga tidak murni mengikuti orientasi strategis yang melekat pada kepentingan kepentingan mereka. Aksi massa bukanlah " prilaku kolektif ", juga bukan " akibat logis " dari mekanisme struktural. Menurut teori tindakan kolektif misalnya yang mendekati akis massa sebagai " tindakan". Disini perilaku dibedakan secara tegas dari tindakan : perilaku berkenaan dengan spontanitas naluriah, sementara tindakan menyangkut kesadaran manusiawi. Dalam keadaan keadaan tertentu orang berkumpul dan bertindak bersama diluar kerangka institusional itu untuk mengubah sesuatu yang secara individual tak bisa mereka lakukan.

Dari teori teori diatas dapat dilihat kekerasan massa seperti kerusuhan, penjaharan, konflik etnis, agama dan sebagainya adalah prilaku yang sama sekali irrasional, yang tidak mencerminkan rasa kemanusian, dalam ranah moderen sekarang konflik itu terus terjadi bahkan kalu dibiarkan akan semakin menjadi seiring dengan rasa dendam dan rasa akan diri dan kelompok yang merasa paling benar terus terpelihara, krisis identitas itu juga akan semakin tumbuh seiring dengan rasa ego akan diri yang juga bisa meletus sewaktu waktu menjadi kekerasan massa.

Dalam tulisan ini juga saya ingin mengatakan dalam diskursus epistemologi kekerasan massa dipandang sebagai sesuatu yang tidak hanya regresi atau amarah suatu kelompok belaka tetapi lebih jauh lagi merupakan sebuah kekacauan dan ketidakstabilan norma norma sosial, dimana sebuah tatanan didobrak secara paksa dengan alasan dendam atau dengan sengaja ingin menghancurkan tatanan sosial tersebut.

 
 
 

FENOMENA PONARI DALAM TINJAUAN MEDIS DAN SOSIOLOGIS

Metode pengobatan yang dilakukan Muhammad Ponari, dukun cilik asal Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terkesan unik dan berbau takhayul.

Keunikan dan unsur takhayulnya itu telah menghipnotis ribuan orang dari berbagai daerah di pelosok Tanah Air masih memadati tempat praktik anak semata wayang hasil pernikahan Kasemin (42) dan Mukaromah (28) itu sampai sekarang.

Bahkan di antara mereka ada yang rela antre selama berhari-hari demi mendapatkan seteguk air putih yang sebelumnya dicelup batu yang digenggam siswa Kelas III SD Negeri Balongsari 1 itu.

Tak peduli, apakah air celupan batu itu higienis atau tidak, yang penting mereka percaya, bahwa air itu bertuah dan bisa menyembuhkan segala macam penyakit.

"Setidaknya bisul yang saya rasakan bertahun-tahun sudah agak mendingan," kata Masilah (43), warga Surabaya, setelah meneguk air keruh yang didapat dari rumah Ponari.

Kendati demikian, ada juga warga yang tidak percaya bahkan kapok setelah mengonsumsi air Ponari, namun penyakitnya tak kunjung sembuh, seperti yang dialami Hamzah (53), warga Mojongapit, Jombang. "Nyatanya mata saya juga tidak ada perubahan, setelah minum air dari Ponari," katanya sambil menunjukkan matanya yang sakit.

Namun tak sedikit pula warga yang penasaran untuk mendapatkan air itu. "Sampai kapan pun, saya akan tetap bertahan di sini untuk mendapatkan air itu," kata Maslukhan, warga Purwodadi, Jawa Tengah saat ditemui di Dusun Kedungsari, Sabtu (21/2) siang.

Kedatangannya ke dusun kumuh itu sebagai bentuk ikhtiar dengan harapan kelumpuhan yang diderita ibunya itu bisa sembuh. Sudah tiga hari Maslukhan berada di Dusun Kedungsari, tapi tetap tidak mendapatkan kupon antrean karena setiap hari panitia hanya mengeluarkan 5.000 lembar kupon, sedang yang datang di atas angka 10.000 orang.

Terlepas dari semua keunikan dan hal-hal yang berbau takhayul, secara medis air yang didapat dari Ponari itu tetap tidak layak untuk dikonsumsi. "Air dalam kemasan saja masih ada yang tidak sehat, apalagi air yang dicelup batu dan tangan Ponari. Siapa yang menjamin kebersihan tangan Ponari?" kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Jombang, dr Pudji Umbaran.

Dalam tinjauan medis, orang yang berobat kepada Ponari hanya mendapatkan efek "placebo", yakni penderita merasakan kenyamanan sesaat, walaupun penyakit yang dideritanya tidak hilang begitu saja.

"Efek `placebo` ini juga bisa didapatkan oleh pasien dari dokter. Makanya mengapa ada dokter yang banyak didatangi pasien dan mengapa pula ada dokter yang sepi pasien. Ilmu kedokteran itu mencakup `scientific` dan `art`. Dokter yang bisa menggabungkan `scientific` dan `art` inilah yang bakal dikunjungi banyak pasien," kata Pudji menjelaskan.

Efek "placebo", lanjut dia, sudah bisa dirasakan oleh pasien, bahkan sebelum mengunjungi dokter itu. "Ada orang yang merasa sembuh, sebelum meminum obat dari dokter karena sudah telanjur cocok pada dokter itu," katanya mencontohkan.

Sama halnya dengan orang yang datang ke tempat Ponari. "Setelah meneguk air, ada orang yang langsung merasakan kesembuhan. Padahal penyakitnya belum hilang. Kalau tidak percaya, silakan penderita tumor datang ke tempat Ponari, setelah itu bisa dibuktikan secara bersama-sama melalui rontgen, apakah tumornya itu hilang atau masih ada," katanya.

Belum lama ini Dimas (3,5), warga Desa/Kecamatan Ngusikan meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang. Ia menderita radang otak yang cukup parah. "Berdasar pengakuan dari kedua orangtuanya, anak itu sebelumnya mendapatkan pengobatan dari Ponari," katanya.

Demikian pula banyak pasien dokter di Jombang yang mengaku telah melakukan terapi di rumah Ponari. "Hampir 30 persen pasien yang melakukan rawat jalan di rumah saya sudah pernah ke sana," kata Pudji.

Oleh sebab itu IDI Jombang menyatakan, bahwa pengobatan yang dilakukan oleh Ponari tidak bisa dipertanggungjawabkan secara medis. Dalam ilmu kedokteran, untuk memastikan seseorang menderita penyakit tertentu harus melalui beberapa tahap.

Pudji menjelaskan, dalam menangani pasien seorang dokter wajib melakukan proses "anamesa" atau wawancara dengan pasien yang ditindaklanjuti dengan pemeriksaan fisik yang bisa dilakukan dengan melihat, meraba, dan mengetuk tubuh pasien.

Kalau masih ragu, seorang dokter bisa melakukan pengujian laboratoris dan rontgen. "Setelah itu baru mendiagnosis penyakit pasien yang diikuti dengan tata laksana pengobatan," katanya.

Serangkaian proses itu tidak menjamin seorang pasien sembuh total. Oleh sebab itu, Pudji tidak memungkiri kedatangan seseorang ke dukun atau ahli pengobatan alternatif lainnya karena merasa putus asa dengan model penyembuhan yang dilakukan oleh dokter.

"Justru fenomena Ponari ini, kami melihatnya sebagai tantangan bagi dokter. Untuk menjawab tantangan itu, seorang dokter tidak boleh lagi tertutup dan pelit dalam memberikan informasi mengenai penyakit terhadap pasien. Sudah bukan zamannya lagi, dokter terburu-buru memeriksa seseorang karena pasien di luar banyak yang sudah antre," kata Kasubid Pelayanan Medik RSUD Jombang itu mengingatkan para dokter.

Menurut dia, di Kabupaten Jombang dokter umum dan spesialis yang membuka praktik mencapai 180 orang. "Jumlah ini melebihi rasio penduduk karena idealnya seorang dokter melayani 10.000 pasien. Hanya tingkat penyebarannya tidak merata," katanya.

Untuk mendapatkan pelayanan dokter umum swasta, masyarakat hanya dikenakan tarif sebesar Rp20.000,00 hingga Rp25.000,00 termasuk obat (dispencing). Sedang tarif jasa pemeriksaan dokter spesialis di Jombang berkisar antara Rp30.000,00 hingga Rp50.000,00 untuk sekali kunjungan.

"Belum lagi Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat), sehingga masyarakat dapat mendapatkan layanan kesehatan secara cuma-cuma, baik di puskesmas maupun di rumah sakit. Bahkan masyarakat yang tidak memiliki kartu Jamkesmas, Pemkab Jombang masih menanggungnya melalui program Jamkesda yang dananya bersumber dari APBD," katanya.

Oleh sebab itu, dia tidak setuju adanya anggapan bahwa fenomena Ponari sebagai dampak akibat buruknya pelayanan kesehatan terhadap masyarakat. "Di Kecamatan Megaluh, tak jauh dari rumah Ponari, ada dokter dan puskesmas yang siap memberikan pelayanan setiap hari," kata Pudji menambahkan.

Romantisme Mistis

Sementara itu pakar sosiologi dan kebudayaan dari Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang, Prof Dr Tadjoer Ridjal, MPd mengemukakan, fenomena Ponari tidak memiliki keterkaitan langsung dengan masalah pelayanan kesehatan dan kondisi sosio-kultural masyarakat Jombang secara umum.

"Yang datang ke rumah Ponari, bukan hanya masyarakat Jombang. Kalau dicermati lagi, justru lebih banyak dari daerah lain, termasuk Kalimantan, Sumatra dan beberapa wilayah lain di Indonesia," katanya.

Menurut dia, fenomena Ponari merupakan potret masyarakat yang masih memegang teguh pemikiran tradisional. "Golongan masyarakat ini ingin menghidupkan kembali mitos lama yang telah punah. Golongan ini penganut romantisme mistis," katanya.

Mitos lama itu, lanjut Tadjoer, adalah munculnya sosok Ki Ageng Selo yang melegenda di kalangan masyarakat Jawa ratusan tahun silam. Ki Ageng Selo mendadak sakti setelah petir yang hendak menyambarnya mampu dihalau dan berubah menjadi sebuah batu.

"Legenda Ki Ageng Selo itu kembali dihidupkan di tengah masyarakat dengan menampilkan sosok Ponari. Dalam tinjauan sosiologi dan kebudayaan, kedua sosok ini sama-sama memiliki power yang digambarkan oleh kalangan masyarakat tertentu sebagai bentuk kesaktian," katanya.

Berdasar tradisi, kekuasaan (power) itu tidak diperoleh melalui pencapaian prestasi tapi askriptif dengan penaklukan dan penyerapan. Penyerapan bisa didapatkan dari faktor keturunan dan titisan.

"Ponari merupakan askriptif penyerapan titisan. Masyarakat menganggap Ponari merupakan titisan dari Ki Ageng Selo sehingga dia pun dianggap memiliki kesaktian," kata Asisten Direktur Program Pasca Sarjana Undar Jombang itu.

Oeh sebab itu, kemampuan yang ada pada diri Ponari tidak bisa diukur dengan menggunakan paradigma rasio empiris. "Fenomena Ponari sama sekali mengabaikan kelas dan strata ekonomi karena diusung oleh golongan romantisme mistis tadi. Yang datang ke tempat Ponari tidak hanya orang miskin, tapi banyak kalangan masyarakat kaya dan berpendidikan, terutama mereka yang berasal dari luar Jawa. Oleh sebab itu, fenomena ini tidak bisa ditinjau secara rasio empiris," katanya.

Apakah fenomena Ponari itu akan berlangsung dalam waktu yang relatif lama, Tadjoer menyatakan, tergantung situasi dan kondisi yang terjadi di masyarakat sekitar. "Biasanya fenomena itu akan berakhir, kalau sudah ada unsur komersial," katanya.

"Karena kesaktian seseorang itu didasari syarat-syarat moral, di antaranya yang paling utama adalah membantu orang lain tanpa pamrih. Jadi secara otomatis, kesaktian seseorang akan sirna, jika sudah berorientasi pada materi," kata Tadjoer menambahkan.

Tentu hal itu susah untuk dijawab Ponari dan keluarganya yang hingga hari ke-21 buka praktik di Dusun Kedungsari telah mampu meraup penghasilan di atas angka Rp1 miliar.

Kendati uang itu tak pernah diimpikan sebelumnya, tidak tertutup kemungkinan uang sebesar itu akan mengubah pola hidup keluarga miskin yang selama ini tinggal di rumah berdinding anyaman bambu itu
 
 
 

SOSIOLOGI PE(RAMPOK)AN

HIDUP keseharian memang menjadi seperti tidak adil. Sedih dan gembira silih berganti tak hanya dari segi waktu datang dan perginya, namun juga dari segi siapa yang mengalaminya. Orang-orang (asyik) berlakon dengan lakon-lakon tertentu, tak terkecuali perampok.

Dalam sosiologi, "status" perampok tidak pernah dibawa sejak lahir (ascribed status), melainkan achieved status (yang diraih, yang diperoleh dengan upaya tertentu, oleh orang berkualifikasi tertentu). Hanya saja, perampokan jelas sebuah "kreasi" negatif, yang sesat secara sosial dan agama, melanggar hukum. Perampok adalah deviant, orang-orang yang melakukan penyimpangan-penyimpangan, suatu perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas toleransi. Kita misalnya menemukan kasus di mana perampok juga memerkosa korban perempuan, atau sekalian membunuh korbannya.

Kriminolog Edwin H Sutherland mengatakan, penyimpangan bersumber pada pergaulan yang berbeda, dipelajari melalui proses alih budaya, tentang deviant subculture (subkebudayaan yang menyimpang). Menurut Sutherland, penyimpangan adalah konsekuensi dari kemahiran dan penguasaan atas suatu sikap atau tindakan yang dipelajari dari norma-norma menyimpang. Tetapi Sosiolog Lemert mengajukan teori lain, yaitu labeling theory. Menurutnya, seseorang menjadi menyimpang karena proses labeling--pemberian julukan, cap, atau merek, oleh masyarakat kepada orang tersebut.

Sosiolog lain, yaitu Robert K Merton, mengaitkan penyimpang dengan struktur sosial makro (Teori Anomie). Menurutnya, struktur sosial tidak hanya menghasilkan perilaku konformis (taat norma), melainkan juga menghasilkan perilaku menyimpang.

Perampokan sebagai satu bentuk penyimpangan dapat kita baca penyebabnya dengan tiga teori di atas, yang sesungguhnya menyorot dari perspektif mikro (sosiologi) berkenaan dengan interaksi sosial seseorang, termasuk sikap masyarakat, dan makro (sosiologi) berkaitan dengan struktur sosial, yang di dalamnya termasuk kebijakan ekonomi dan politik serta hukum negara.

Dalam keseharian, disadari atau tidak, warga masyarakat sendiri adalah produsen perampok. Ketika masyarakat misalnya tak lagi berempati atas penderitaan orang lain, atau jauh dari sikap kasih sayang, suka mengucilkan, tak lagi toleran, berlaku tidak adil, maka orang atau orang-orang lain tadi memilih melakukan pemberontakan (rebellion). Ketika orang ingin bekerja, sering harus menggunakan sogokan, surat sakti, dan sebagainya, untuk dapat diterima; tak ada uang atau koneksi, tak dapat kerja.

Beberapa posisi di pemerintahan diduduki atas alasan nepotis dan primordial. Ketidakadilan ini mendorong orang lain sakit hati, marah, melakukan penyimpangan-penyimpangan, berbuat destruktif, karena mekanisme normal telah dihancurkan oleh keserakahan.

Tentu saja ada persoalan yang terkait dengan kegagalan penanaman nilai-nilai di rumah tangga, yang merupakan agen sosialisasi terpenting. Penyimpangan lahir dari ketidakmampuan para orang tua menunjukkan kepada anak-anaknya tentang konsep baik dan benar dan konsep buruk, atau jahat. Tak kurang pula orang tua yang tak mampu menunjukkan keteladanannya di hadapan anak-anaknya.

Koruptor bukan Perampok
Perampok adalah orang yang gagal secara manajemen dalam mengurus diri sendiri, sering berasal dari kelas bawah, dari keluarga yang hancur. Koruptor sebenarnya perampok juga, dari segi bahwa koruptor juga merampas duit orang. Kerugian Indonesia karena perilaku para koruptor itu mencapai puluhan triliun rupiah tiap tahun.

Koruptor umumnya sudah mapan secara ekonomi, berpendidikan tinggi dan sering berasal dari kaum terdidik, memiliki kedudukan sosial dan politik. Hanya saja mereka tak membunuh korban secara langsung, melainkan perlahan-lahan misalnya ketika kemiskinan tak lagi dapat ditanggulangi karena korupsi yang merajelala.

Namun, sebagian besar kita tidak melihat koruptor sebagai perampok, padahal sejatinya koruptor perampok juga, bahkan jauh lebih menghancurkan dibanding perampok. Peluru dari pistol polisi kerap membuat perampok menemui ajal, tak sempat berhadapan dengan jaksa dan hakim, apalagi mendapat bantuan pengacara. Perampok, pencuri, penjambret, segera dijebloskan ke dalam tahanan meskipun kadang kala kondisi mereka memprihatinkan.

Tetapi terhadap koruptor, sebagian besar warga berlaku manis, demikian juga aparat penegak hukum. Itu sebabnya mengapa hukuman-hukuman sosial yang pernah disarankan untuk dikenakan kepada koruptor, tidak mendapat tanggapan yang berarti dari sebagian besar rakyat. Warga telah berlaku terlalu permisif kepada tersangka koruptor, atau kepada koruptor terpidana, atau kepada keluarga koruptor. Warga tak cukup memberi efek jera kepada koruptor, atau tak berkontribusi secara memadai dalam mencegah seseorang menjadi koruptor.

Dalam proses hukum, tersangka perampok, pencuri, atau penjambret misalnya, akan "menikmati perlakuan" sesuai dengan kelas mereka, sulit mendapatkan penangguhanan penahanan, atau sukar mendapatkan status tahanan kota, atau mendapatkan kebebasan atas alasan kemanusiaan. Sedangkan tersangka koruptor, seperti di Aceh, bisa bebas tanpa ditahan, bahkan ada tersangka korupsi yang mendapat promosi jabatan di kantornya, atau tetap dapat menduduki jabatannya tanpa sanksi apapun.

Koruptor yang merampok uang rakyat itu biasanya pejabat penting, berpengaruh, atau politisi, dan hampir semua mereka memiliki duit berlimpah. Karena itu, meskipun korupsi berjumlah satu sampai ratusan miliar, bukan hal aneh di negeri ini jika polisi dan jaksa tak mau menjerat tersangka koruptor itu dengan ancaman hukuman maksimal. Sesudah ancaman hukuman yang tak maksimal, hakim kemudian menghukum koruptor dengan hukuman yang lebih rendah dari ancaman hukuman yang tak maksimal itu.

Itu sebabnya kemudian kita merasa marah, dan merasakan ketidakadilan yang sangat nyata, ketika koruptor hanya berada di penjara setahun dua saja, atau dalam hitungan bulan saja, mereka tiba-tiba saja bebas, padahal mereka sudah merampok uang rakyat miliaran rupiah! Mereka memang dilindungi. Ada remisi, yang memang sah secara hukum, dan hak setiap napi, tetapi jika saja koruptor dihukum dengan hukuman maksimal, maka koruptor bisa lebih lama di penjara. Namun, hal itu tak pernah dipedulikan oleh aparat penegak hukum dan hakim. Dulu pernah ada usul dikirim ke Nusakambangan, namun usulan itu menguap.

Dulu pernah ada usul agar terdakwa korupsi itu dikenakan pakaian tahanan saat menjalani sidang, namun usulan itu ditolak juga oleh pemerintah. Bahkan sebuah penjara baru khusus untuk napi koruptor kemudian dibangun oleh pemerintah, dengan niat bukan membuat jera melainkan membuat lebih nyaman. Napi koruptor dapat "membeli" fasilitas tertentu untuk dimasukkan ke dalam penjara, atau dengan uang dan pengaruh yang dimilikinya, dapat keluar masuk penjara meskipun berstatus sebagai napi. Kalau sakit berat, koruptor kemudian diampuni atau mendapat grasi, seperti Syaukani, mantan bupati Kutai Kartanegara. Jangan harap para napi perampok akan mendapatkan perlakuan-perlakuan manis seperti itu.

Tukar Resep
Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai sebuah bentuk toleransi kepada perampok, melainkan mencoba menerangkan perampokan itu sebagai sebuah bentuk penyimpangan multi sebab. Di sisi lain, tulisan ini bermaksud memberi gambaran atas ketidakadilan struktur hukum dengan mengaitkan penindakan terhadap koruptor dibanding penindakan terhadap perampok. Sikap permisif warga masyarakat dan aparat pemerintah kepada koruptor adalah sebuah ketidakadilan, yang hanya akan menyebabkan korupsi semakin sulit diberantas di negeri ini.

Sudah saatnya bangsa ini berpikir, menukar resep untuk menyembuhkan penyakit korupsi dengan mempertimbangkan aspek keadilan rakyat. Perbaiki moralitas kepolisian, kejaksaan, dan hakim, bidik tersangka koruptor dengan ancaman maksimal. Bagi masyarakat luas, sudah masanya berpikir untuk menerapkan sanksi sosial kepada koruptor, dan atau keluarganya. Perampok adalah perampok, dan koruptor adalah perampok juga, jangan sampai kita mengirimkan pesan salah bahwa menilep uang rakyat itu adalah hak seseorang dan dibolehkan oleh agama dan hukum negara.
 
 
 

SOSIOLOGI DI ERA MIGRASI DAN GLOBALISASI

Dunia memasuki abad ke-21. Di abad "baru" ini arus "migrasi" dan globalisasi akan
terus meningkat secara luar biasa (cf. Evers dan Korff, 2000). Dalam kaitan ini
globalisasi ditandai oleh semakin masif dan aneka ragamnya mobilitas di atas muka bumi seperti manusia, objek, kapital, informasi, imaji, hingga aneka ragam sampah. Kita mengamati terdapat saling ketergantungan yang kompleks diantara aspek-aspek tersebut di atas, berikut segala konsekuensi sosialnya (Urry, 1999: 1; cf. Featherstone and Lash, 1999). Apakah implikasi serius kecenderungan baru ini terhadap keberadaan sosiologi sebagai suatu disiplin yang selama beberapa abad telah malang melintang?

selengkapnya download disini
 
 
 

POSITIVE DEVIANCE: PENYIMPANGAN POSITIF SEBAGAI MODEL DALAM MENGATASI MASALAH GIZI BURUK

Dalam disiplin sosiologi, studi tentang perilaku menyimpang lebih banyak difokuskan pada perilaku-perilaku yang negatif. Sehubungan dengan itu maka sebagian besar dari teori ataupun riset mengenai perilaku menyimpang menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan tindakan kejahatan, seperti: mencuri, kenakalan remaja, homoseksual, ketergantungan obat, gangguan mental, dll. Bahkan salah satu mata kuliah dalam sosiologi yaitu Sosiologi Perilaku Menyimpang berisi tentang perilaku-perilaku negatif tersebut.

Konsep Positive Deviance (penyimpangan positif) pertama kali muncul dalam tulisan Wilkins (1964:46) yang menggambarkan penyimpangan (deviance) seperti sebuah kurva berbentuk lonceng, dimana tindakan-tindakan penuh dosa (penyimpangan negatif) berada di sebelah kiri dan tindakan-tindakan penuh suci (Positive Deviance) berada di sebelah kanan. Sedangkan tindakan-tindakan normal terdapat di tengah-tengah kurva. Dalam masyarakat terdapat sangat sedikit tindakan-tindakan yang secara ekstrim penuh suci atau sangat
membantu dalam masyarakat dan sangat sedikit pula tindakan-tindakan yang secara ekstrim penuh dosa atau tindakan criminal yang serius. Pada umumnya (mayoritas) dari tindakantindakan manusia dalam kebudayaan adalah "normal".

selengkapnya download disini
 
 
 

PERANGKAT MENGAJAR SOSIOLOGI KELAS X

 
 
 

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PORTOFOLIO MATA PELAJARAN SOSIOLOGI KELAS X DI SMA NEGERI 4 KOTA TEGAL

Selama ini pembelajaran Sosiologi dianggap sebagai mata pelajaran kurang menyenangkan. Ini dikarenakan guru terbiasa dengan pembelajaran konvensional, dimana siswa kurang dilibatkan secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Belajar mengajar terkesan kaku, kurang fleksibel, kurang demokratis dan guru cenderung menggunakan satu metode (one way method). untuk menanggapi anggapan di atas diperlukan suatu pembelajaran yang efektif dan efisien. Untuk menjawab tantangan tersebut diperlukan suatu inovasi dalam dunia pendidkan yaitu pembelajaran portofolio, merupakan alternatif cara belajar siswa aktif. Dimana guru harus mampu sebagai pemegang kunci yang mempunyai ide-ide kreatif dan inovasi agar pembelajaran tidak membosankan. Namun, kebenaran argumen ini perlu dibuktikan melalui kegiatan penelitian agar diperoleh jawaban yang akurat.
Dari latar belakang masalah diatas muncul permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini yaitu: (1) bagaimana pelaksanaan pembelajaran portofolio pada mata pelajaran Sosiologi kelas X di SMA Negeri 4 Kota Tegal? dan (2) adakah hambatan-hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran portofolio mata pelajaran Sosiologi kelas X di SMA Negeri 4 Kota Tegal? Penelitian ini bertujuan: (1) ingin mengetahui pelaksanaan pembelajaran portofolio pada mata pelajaran Sosiologi kelas X di SMA Negeri 4 Kota Tegal, (2) ingin mengetahui hambatan-hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran portofolio mata pelajaran Sosiologi kelas X di SMA Negeri 4 Kota Tegal.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan metode pengamatan (observasi), metode wawancara, dan metode dokumentasi. Fokus dalam penelitian ini adalah guru yang mengajar menggunakan pembelajaran portofolio dan siswa yang diajar menggunakan pembelajaran berbasis portofolio. Analisis datanya bersifat deskritptif analisis interaktif yaitu mulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukan gambaran umum SMA Negeri 4 Kota Tegal terletak di jalan Dr. Setiabudi No. 32 Kota Tegal lokasi tersebut sangat strategis dan mudah dijangkau dan SMA Negeri 4 Kota Tegal merupakan salah satu SMA yang berkualitas dan mampu berkompeten dalam mengembangkan dunia kependidikan di Kota Tegal terbukti bahwa SMA Negeri 4 kota Tegal telah mampu bersaing dengan lembaga-lembaga pendidikan formal lain yang ada di kota Tegal, pada khususnya dalam bidang akademik maupun prestasi.Yang kedua bahwa pelaksanaan pembelajaran portofolio di SMA Negeri 4 Kota Tegal berjenis portofolio tayangan dan portofolio dokumentasi. Diadakan di kelas X pada semester genap. Dalam pembelajaran portofolio siswa dilatih untuk memiliki
kesadaran dan kemampuan bersikap kritis, peka dan peduli terhadap fenomena yang terjadi di dalam masyarakat sekitarnya. Dalam pembelajaran portofolio evaluasi portofolio mencakup penilaian portofolio tampilan atau tayangan, penilaian portofolio dokumentasi, serta penilaian portofolio presentasi. Dan yang ketiga hambatan-hambatan dalam pembelajaran portofolio yaitu waktu, biaya, dan kompetensi guru. Waktu dalam pembelajaran portofolio yaitu triwulan pertama identifikasi masalah kemudian dilanjutkan dengan mencari data di lapangan, triwulan kedua siswa menyelesaikan portofolio yaitu portofolio tayangan dan dokumentasi, akhir semester diadakan show_case. Kompetensi guru di SMA Negeri 4 sudah cukup baik karena pemahaman tentang pembelajaran portofolio didapatkan dari penataran di Semarang tentang pembelajaran portofolio walaupun kompetensi yang diharapkan belum maksimal hasilnya karena guru berlatar belakang non pendidikan Sosiologi. Namun berdasarkan wawancara dengan guru dan peserta didik yang sangat menonjol yaitu biaya karena dalam pembelajaran portofolio membutuhkan biaya yang cukup banyak terutama dalam pelaksanaan show_case.
Berdasarkan hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran portofolio menjadikan peserta didik lebih aktif dalam proses belajar mengajar dan guru sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar mengajar mampu membuat suatu kegiatan belajar mengajar Sosiologi menjadi menyenangkan dan kondusif bagi peserta didiknya. Hambatan-hambatan dalam pembelajaran portofolio yaitu waktu, biaya, dan kompetensi guru.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para guru terutama guru yang kesulitan dalam meningkatkan antusiasme siswa untuk mencoba pembelajaran portofolio terutama untuk meningkatkan kreatifitas dan sikap kritis dalam proses belajar mengajar. Dengan demikian suasana belajar mengajar lebih kondusif dan kualitas pembelajaran lebih meningkat dan bermutu

selengkapnya download disini
 
 
 

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PORTOFOLIO MATA PELAJARAN SOSIOLOGI KELAS X DI SMA NEGERI 4 KOTA TEGAL

Selama ini pembelajaran Sosiologi dianggap sebagai mata pelajaran kurang menyenangkan. Ini dikarenakan guru terbiasa dengan pembelajaran konvensional, dimana siswa kurang dilibatkan secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Belajar mengajar terkesan kaku, kurang fleksibel, kurang demokratis dan guru cenderung menggunakan satu metode (one way method). untuk menanggapi anggapan di atas diperlukan suatu pembelajaran yang efektif dan efisien. Untuk menjawab tantangan tersebut diperlukan suatu inovasi dalam dunia pendidkan yaitu pembelajaran portofolio, merupakan alternatif cara belajar siswa aktif. Dimana guru harus mampu sebagai pemegang kunci yang mempunyai ide-ide kreatif dan inovasi agar pembelajaran tidak membosankan. Namun, kebenaran argumen ini perlu dibuktikan melalui kegiatan penelitian agar diperoleh jawaban yang akurat.
Dari latar belakang masalah diatas muncul permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini yaitu: (1) bagaimana pelaksanaan pembelajaran portofolio pada mata pelajaran Sosiologi kelas X di SMA Negeri 4 Kota Tegal? dan (2) adakah hambatan-hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran portofolio mata pelajaran Sosiologi kelas X di SMA Negeri 4 Kota Tegal? Penelitian ini bertujuan: (1) ingin mengetahui pelaksanaan pembelajaran portofolio pada mata pelajaran Sosiologi kelas X di SMA Negeri 4 Kota Tegal, (2) ingin mengetahui hambatan-hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran portofolio mata pelajaran Sosiologi kelas X di SMA Negeri 4 Kota Tegal.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan metode pengamatan (observasi), metode wawancara, dan metode dokumentasi. Fokus dalam penelitian ini adalah guru yang mengajar menggunakan pembelajaran portofolio dan siswa yang diajar menggunakan pembelajaran berbasis portofolio. Analisis datanya bersifat deskritptif analisis interaktif yaitu mulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukan gambaran umum SMA Negeri 4 Kota Tegal terletak di jalan Dr. Setiabudi No. 32 Kota Tegal lokasi tersebut sangat strategis dan mudah dijangkau dan SMA Negeri 4 Kota Tegal merupakan salah satu SMA yang berkualitas dan mampu berkompeten dalam mengembangkan dunia kependidikan di Kota Tegal terbukti bahwa SMA Negeri 4 kota Tegal telah mampu bersaing dengan lembaga-lembaga pendidikan formal lain yang ada di kota Tegal, pada khususnya dalam bidang akademik maupun prestasi.Yang kedua bahwa pelaksanaan pembelajaran portofolio di SMA Negeri 4 Kota Tegal berjenis portofolio tayangan dan portofolio dokumentasi. Diadakan di kelas X pada semester genap. Dalam pembelajaran portofolio siswa dilatih untuk memiliki
kesadaran dan kemampuan bersikap kritis, peka dan peduli terhadap fenomena yang terjadi di dalam masyarakat sekitarnya. Dalam pembelajaran portofolio evaluasi portofolio mencakup penilaian portofolio tampilan atau tayangan, penilaian portofolio dokumentasi, serta penilaian portofolio presentasi. Dan yang ketiga hambatan-hambatan dalam pembelajaran portofolio yaitu waktu, biaya, dan kompetensi guru. Waktu dalam pembelajaran portofolio yaitu triwulan pertama identifikasi masalah kemudian dilanjutkan dengan mencari data di lapangan, triwulan kedua siswa menyelesaikan portofolio yaitu portofolio tayangan dan dokumentasi, akhir semester diadakan show_case. Kompetensi guru di SMA Negeri 4 sudah cukup baik karena pemahaman tentang pembelajaran portofolio didapatkan dari penataran di Semarang tentang pembelajaran portofolio walaupun kompetensi yang diharapkan belum maksimal hasilnya karena guru berlatar belakang non pendidikan Sosiologi. Namun berdasarkan wawancara dengan guru dan peserta didik yang sangat menonjol yaitu biaya karena dalam pembelajaran portofolio membutuhkan biaya yang cukup banyak terutama dalam pelaksanaan show_case.
Berdasarkan hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran portofolio menjadikan peserta didik lebih aktif dalam proses belajar mengajar dan guru sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar mengajar mampu membuat suatu kegiatan belajar mengajar Sosiologi menjadi menyenangkan dan kondusif bagi peserta didiknya. Hambatan-hambatan dalam pembelajaran portofolio yaitu waktu, biaya, dan kompetensi guru.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para guru terutama guru yang kesulitan dalam meningkatkan antusiasme siswa untuk mencoba pembelajaran portofolio terutama untuk meningkatkan kreatifitas dan sikap kritis dalam proses belajar mengajar. Dengan demikian suasana belajar mengajar lebih kondusif dan kualitas pembelajaran lebih meningkat dan bermutu

selengkapnya download disini
 
 
 

TINJAUAN SOSIOLOGI KESEHATAN MENGENAI KEBIASAAN MINUM MINUMAN KERAS (CIU BEKONANG) DI DAERAH SUKOHAR

Kondisi geografis dan budaya masyarakat Bekonang kecamatan Mojolaban kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah yang sebagian besar penduduknya mempunyai industri rumah tangga memproses tetes tebu menjadi alkohol yang berkadar rendah (37%) banyak disalahgunakan untuk mabukmabukkan. Alat destilasi dapat menaikkan kadar alkohol dari 37% menjadi 90% yang dapat digunakan untuk desinfektan di dunia kesehatan. Setelah kadar alkohol meningkat menjadi 90%, masyarakat Bekonang pada khususnya dan karisidenan Surakarta pada umumnya sudah tidak lagi menyalah-gunakan produksi alkohol "Ciu Bekonang" untuk minum dan mabuk-mabukkan.

selengkapnya download disini
 
 
 

KENDALA-KENDALA DALAM PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN SOSIOLOGI

Sosiologi sebagai mata pelajaran telah diajarkan di SMA sejak tahun 1994. Guru pengampu yang berlatar belakang pendidikan Sosiologi masih sangat terbatas. Hal ini menyebabkan mata pelajaran Sosiologi diampu oleh disiplin Geografi, Sejarah, Kewarganegaraan, Biologi, Ekonomi, Pertanian, dan Bahasa Indonesia. Ketidaksesuaian latar belakang pendidikan ini tentunya akan berimbas pada kemampuan dan kendala bagi guru dalam pembelajaran. Oleh karena itu permasalahan dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana profil guru Sosiologi di SMA Negeri Kabupaten Wonosobo? (2) Bagaimana kemampuan guru dalam pembelajaran Sosiologi di SMA Negeri Kabupaten Wonosobo? (3) Kendala-kendala apa yang dihadapi guru dalam pembelajaran Sosiologi di SMA Negeri Kabupaten Wonosobo? Adapun tujuan penelitian (1) Mengetahui profil guru Sosiologi di SMA Negeri Kabupaten Wonosobo baik status, pendidikan maupun pengalaman dengan tingkat pengetahuan di dalam pengembangan kegiatan pembelajaran Sosiologi, (2) Mengetahui kemampuan guru dalam pembelajaran Sosiologi, (3) Mengetahui kendala yang dihadapi guru dalam pembelajaran Sosiologi, (4) Mengetahui kendala yang dihadapi guru dalam merencanakan pembelajaran Sosiologi, (5) Mengetahui kendala yang dihadapi guru dalam pelaksanaan pembelajaran Sosiologi
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Lokasi penelitian di SMA Negeri sekabupaten wonosobo, dengan metode pengumpulan data observasi, wawncara, dan dokumentasi. Subjek penelitian ini adalah guru-guru pengampu mata pelajaran Sosiologi SMA Negeri kabupaten Wonosobo dengan informan masing-masing kepala sekolah. Data yang diperoleh dianalisis dan menggunakan uji validitas salah satunya dengan cara Trianggulasi. Dalam menganalisis data penelitian ini melalui 3 tahapan yaitu: Reduksi data, Penyajian data, dan Penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 16 guru pengampu mata pelajaran Sosiologi di SMA Negeri kabupaten Wonosobo, hanya 2 orang (12,5%) yang berasal dari disiplin ilmu Sosiologi. Adapun yang lainnya berasal dari jurusan Geografi, Pertanian, Ekonomi, Kewarganegaraan, Sejarah, Biologi, dan Bahasa Indonesia. Minimnya guru yang berlatar belakang pendidikan Sosiologi membuat Sosiologi menjadi mata pelajaran yang diampu oleh guru-guru yang jam mengajarnya masih kurang dari kewajiban minimal perminggu. Hal ini menyebabkan guru tersebut terbentur dalam pengembangan pembelajaran Sosiologi. Ada perbedaan antara guru berlatar belakang pendidikan Sosiologi dan non Sosiologi. Di mana guru berlatar belakang Sosiologi bukan berasal dari kependidikan, sehingga merasa kesulitan dalam wacana keguruannya terkait dengan perangkat pembelajaran dan metode pembelajaran. Guru berlatar belakang pendidikan non sosiologi sebagian besar mengalami kendala dalam sumber belajar, media, dan sarana prasarana. Di samping itu guru yang bukan dari disiplin Sosiologi merasa bahwa Sosiologi adalah pelajaran yang mudah bahkan jika dibandingkan dengan mengampu mata pelajaran yang merupakan bidang keilmuannya. Guru justru lebih cenderung fokus pada pelajaran yang diampunya dan merupakan bidang keilmuannya. Hal ini disebabkan sebagian guru tersebut hanya mengandalkan buku paket Sosiologi SMA, sehingga tidak sampai membawa siswa memiliki kompetensi sesuai yang diharapkan.
Simpulan penelitian ini adalah dalam pembelajaran Sosiologi guru mengalami banyak kendala baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Saran bagi guru untuk meningkatkan kemampuan mengajarnya dengan terus belajar. Baik dari buku, seminar atau pelatihan, maupun dengan guru lain yang lebih berpengalaman. Pihak sekolah mulai membenahi formasi guru Sosiologi, dengan tidak menempatkan guru pengampu Sosiologi yang semata-mata kekurangan jam mengajar. Sekolah secepatnya melengkapi media dan sarana prasarana yang dibutuhkan guna menunjang keberhasilan pembelajaran. Bagi Dinas Pendidikan untuk memfasilitasi keterbatasan guru dari latar belakang pendidikan Sosiologi. Oleh sebab itu diperlukan kerja sama dari berbagai pihak yang berhubungan dengan pembelajaran Sosiologi, yaitu guru Sosiologi, kepala sekolah dan dinas pendidikan. Hal ini dilakukan supaya dapat diciptakan lingkungan pembelajaran Sosiologi yang kondusif dan dapat diperoleh hasil belajar yang optimal.

download secara lengkap disini
 
 
Page 1 of 1. Total : 14 Posts.